For Indonesia
Ditulis oleh Midha Mulyaningrum    Kamis, 12 Juni 2008 17:44    PDF Cetak Email
Belajar Menghargai Waktu dari Masyarakat Jepang
Jepang dikenal sebagai negara dengan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Ungkapan waktu adalah uang benar-benar berlaku di negara yang dikenal sebagai Negara Matahari Terbit ini. Jika di Indonesia jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta masih dalam pembulatan 5 menit, Jepang sudah menggunakan pembulatan 1 menit saja.
 
Jangan heran bila menjumpai jadwal keberangkatan kereta atau bus dalam angka-angka ganjil seperti 9:23 atau 17:07 dan hampir dipastikan 99% tepat waktu. Demikian juga dengan jadwal kedatangan, tidak pernah ada istilah kereta terlambat datang, kecuali untuk kejadian luar biasa seperti badai salju atau taifun.

Di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kyoto atau Nagoya terlihat jelas semua orang berburu dengan waktu. Orang-orang berjalan sangat cepat seolah-olah dikejar waktu, tak jarang dari mereka yang setangah berlari, atau bahkan berlari. Pemandangan seperti ini sangat umum dijumpai hampir di setiap sudut kota.

Beda halnya dengan kota yang skalanya lebih kecil, Miyazaki misalnya. Masyarakatnya cenderung lebih santai seolah-olah tidak sedang berkejaran dengan waktu. Kecepatan pejalan kaki pun masih bisa dibilang normal untuk standar Indonesia. Namun bukan berarti mereka tidak disiplin terhadap waktu.

Bila terbiasa hidup dalam kedisiplinan ala Indonesia, mungkin anda akan sedikit terkejut dengan kedisiplinan ala Jepang. Di Indonesia, apabila jadwal kuliah dimulai pukul 10:30 itu berarti pukul 10:35 mahasiswa mulai berdatangan, dosen menunggu mahasiswa lainnya kemudian perkuliahan dimulai pukul 10:40. Sungguh tidak ada maksud untuk merendahkan bangsa sendiri, karena memang seperti itulah hal yang banyak dijumpai di sekitar kita.

Sementara di Jepang, apabila jadwal kuliah dimulai pukul 10:30 itu berarti pukul 10:20 mahasiswa sudah berada di ruangan kelas, menunggu dosen. Pukul 10:25 dosen masuk ruangan dan menyiapkan alat bantu ajar, dan tepat pukul 10:30 perkuliahan dimulai.

Entah bagaimana cara para orang tua menanamkan disiplin pada anaknya. Dan entah bagaimana pula caranya pemerintah Jepang mendidik masyarakatnya untuk menghargai waktu, sehingga tidak ada yang tidak disiplin. Toh kalaupun ada, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Sepertinya kita memang harus belajar banyak dari masyarakat Jepang mengenai kedisiplinan. Namun masalahnya harus seberapa disiplinkah kita? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja tergantung kepada diri kita masing-masing. Seberapa besar apresiasi kita akan waktu, bukan hanya sekedar tepat waktu saja, melainkan lebih kepada cara menghargai dan memanfaatkan waktu itu sendiri.

Midha Mulyaningrum, lulusan Miyazaki University. Kegiatan utama di Indonesia membantu para peneliti Tsunami Hazard Map menggunakan software Arc.GIS, kontributor Mediabersama.com
Jumlah Komentar (0)Add Comment
Tulis Komentar
 
  Perkecil | Perbesar
 

busy